Ini Cara Bisnis Modal Kecil : Menahan Keinginan, Mendahulukan Kebutuhan

Yang saya tulis dibawah ini adalah studi kasus nyata bagaimana saya membangun bisnis penjualan jaket Kulit saya bersama seorang sahabat di Garut. Alhamdulillah, sampai tulisan ini ditulis, usaha ini Insya Allah berkah, bisa menjadi jalan rezeki setidaknya untuk sepuluhan lebih “punggawa” (sebutan kami untuk crew) bersama para keluarganya.

Sebelumnya saya pernah menulis tentang pentingnya modal berupa ilmu daripada modal berbentuk uang, artikelnya anda bisa baca terlebih dahulu disini. Tulisan itu berdasarkan apa yang saya alami.

Kami memulai berbisnis dengan menjadi broker/calo para pengrajin jaket kulit asli digarut. Ditulisan berikutnya, Insya Allah saya share sisi teknisnya, Dalam tulisan ini saya ingin berbagi dari sisi sikap mental yang kami pegang saat memulai usaha ini.

Kami haqqul yaqin bahwa bisnis yang berkah itu tanpa Riba, menghindari riba itu wajib hukumnya, sebab kami yakin bahwa bisnis itu bukan masalah untung rugi, tapi masalah Syurga & Neraka,

Kami haqul yaqin bahwa berhutang itu bukan syarat wajib berbisnis. Bahkan hutang yang bisa menghancurkan bisnis,

Bulan pertama kami membuat web, membeli domain dan perangkat lainya hanya dengan uang sekitar 500Ribuan saja.

Bulan berikutnya, keuntungan sedikit dari bukan pertama tidak langsung kami nikmati, tapi kami investasikan untuk promosi. Begitu seterusnya. Sampai pada satu titik, kami bisa menganggarkan promo cukup besar tanpa harus berhutang.

“Menahan Keinginan, Mendahulukan Kebutuhan “

Salam Action !

Ka

Kebanyakan Modal Lebih Berbahaya Daripada Kekurangan Modal, Benarkah?

11143168_10153264515534299_5756517729904247070_nSalah satu persoalan terbesar dan mungkin terbanyak yang sering menimpa banyak pebisnis adalah ” modal”. Tulisan kali ini bersumber apa yang saya alami dan yakini. So, saya ga bertanggung jawab kalo seandainya setelah anda membaca, kemudian mengamalkan apa yang ada ditulisan ini anda sukses tak terhankan..itu resiko anda yaa.

Kebanyakan Modal Lebih Berbahaya Daripada Kekurangan Modal (dalam bentuk uang)

Sebelumnya, mari kita sama sama sepakati dulu ya, kalo yang namanya modal itu ga selamanya dalam bentuk uang. Bisa jadi dalam bentuk lain. Sayangnya, kebanyakan mindset kita adalah modal = uang.

Kembali ke judul diatas, bahwasanya seringkali kebanyakan modal (yg berbentuk uang) itu lebih berbahaya daripada kekurangan modal. Benarkah?

Ada Nasehat bijak ulama yang sangat saya ingat : “Jika kita ingin dunia dengan ilmu, jika kita ingin akhirat dengan ilmu, jika kita ingin keduanya dengan ilmu” . Entah kenapa nasehat ini sangat membekas di hati saya, yang saat itu sedang galau dikejar Debt Collector, hutang numpuk & sepertinya usaha untuk mencari solusi malah membuahkan utang yang makin menumpuk..

Saat itu, saya mendengar nasehat ini pada saat Khutbah Jum’at di masjid Habiburahman Bandung. Masjid tempat saya berdiam diri berlama – lama saat bingung harus seperti apa lagi menyelesaikan masalah keuangan. Setelah mendengar nasehat itu, saya benar benar tergila – gila dengan belajar, Saya berdiri belama – lama di Gramedia untuk membaca buku, saya hunting buku bekas, berusaha bisa ikut workshop, bagaimanapun caranya saya kejar.

Salah satu yang berkesan adalah ketika saya di tahun 2007 ingin ikut belajar SEO yang harga Trainingnya 4 Juta. Jangankan 4juta, untuk bensin dan makan harian saja saat itu sudah susah, Pantang Menyerah, Pantang Mengeluh dan selalu berdoa pada Allah, Alhamdulillah singkat cerita saya bayar Workshop itu dengan “tenaga”. Saya kerahkan kemampuan saya untuk menjadi EO Training SEO itu, sehingga saya bisa mendapatkan ilmunya secara gratis.

Nah sobat, intinya ilmu lebih penting daripada uang. Percayalah, jikalau anda di titipi uang tetapi ilmu pengelolaan keuangan dan bisnis anda masih sangat terbatas, itu akan menjadi musibah buat anda. Uang yang harusnya untuk modal, malah termakan operasional, bahkan buat hal yang bukan peruntukanya. Padahal itu adalah amanah.

Tentunya tidak usah menunggu sempurna. Kita bisa melakukan bisnis dan belajar secara bersamaan.

Bos – bos saya dikantor yang memimpin perusahaan disekolahkan orangtuanya sampai keluar negeri, sampai di Indonesia mereka bukan berkarier, tapi berbisnis & berdagang. Serius banget kan?

Sedangkan banyak diantara kita dengan hanya modal seminar bisnis sehari langsung berani resign?

Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia

Semarang, Mutiarani, murid kelas XII Akuntansi 1 SMKN 2 Semarang mendapatkan nilai tertinggi dalam kelulusan tingkat SMA/SMK/MA tahun 2012. Meski hidup dalam kesederhanaan, ia tidak pernah setengah-setengah dalam menempuh pendidikan.

Siswi yang dikenal pendiam tersebut tinggal bersama Ibu dan dua kakaknya yang sudah bekerja. Ibu Mutiarani, Sutarmi bekerja sebagai penjaga rumah milik pengusaha minyak di dekat rumahnya di desa Sutak RT6 RW4, Pudak Payung, Semarang. Sementara itu ayahnya, Juwarto meninggal sejak tahun 2007 lalu akibat penyakit ginjal.

Dengan penghasilan ibunya yang hanya Rp 600 ribu/bulan, tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pelajaran di bimbingan belajar selain sekolah. Namun demikian ia mengakali hal tersebut dengan belajar rutin mulai pukul 19.00 WIB.

“Sampai rumah biasanya pukul 15.00 WIB terus istirahat sebentar setelah itu membantu ibu. Terus pukul 19.00 WIB disempatkan belajar,” kata Mutiarani di sekolahnya, jalan Dr. Cipto, Semarang, Sabtu (26/5/2012).

Sementara itu kakak Mutiarani, Tri Utami mengatakan, adiknya setiap kali belajar tidak pernah jauh dari televisi. Meski demikian pihak keluarga tidak melarangnya.

“Kalau belajar tidak pernah jauh dari televisi. Tapi kami sekeluarga percaya kalau adek (Mutiarani) bersungguh-sungguh,” katanya.

Mutiarani mengaku senang menonton televisi apalagi jika ada jadwal pertandingan sepak bola. Bahkan ia mengaku rela begadang setelah belajar jika tim favoritnya yaitu Barcelona berlaga.

“Tapi waktu ujian kemarin enggak bisa nonton soalnya remote televisi disembunyikan ibu,” ungkapnya sambil tersenyum.

Selain itu, meskipun jarak antara rumah dan sekolah Mutiarani yang mencapai 18 Kilometer dan harus ditempuh menggunakan angkutan kota, Mutiarani mengaku tidak pernah satu kalipun terlambat ke Sekolah.

“Saya berangkat dari rumah pukul 05.45 WIB, jadi enggak pernah terlambat,” aku Mutiarani.

Mutiarani dikenal sebagai murid pendiam dan kurang menonjol di sekolahnya. Meski demikian, menurut Kepala Jurusan Akuntansi SMKN 2 Semarang, Sri Sulasmi, Mutiarani termasuk murid yang selalu mendapatkan nilai pelajaran baik.

“Anak yang tadinya diperkirakan mendapatkan prestasi malah kalah oleh Mutiarani. Tidak menyangka karena anaknya pendiam,” katanya.

Mutiarani lulus dengan nilai akumulatif bahasa Indonesia 9,5 lalu nilai bahasa Inggris 9,5, Matematika 9,7 dan Kompetensi 9,6. Nilai itulah yang membuat Mutiarani memiliki nilai tertinggi ujian nasional tahun 2012.

Dara kelahiran 27 November 1994 tersebut juga mengaku terkejut dengan hasil ujian yang sangat membanggakan tersebut.

“Tidak menyangka karena saat tryout banyak yang nilainya lebih tinggi,” akunya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengaku akan mengawal jika ada siswa berprestasi dan jika diperlukan pihaknya juga akan membuat surat rekomendasi.

“Kami akan mengawal siswa yang berprestasi dan jika perlu kami akan membuat rekomendasi bahwa siswa tersebut berprestasi,” ungkap Bunyamin.

(mpr/mpr)

Ahlan Wa Sahlan yâ Qadhayâ

Demikian status message Aa kemarin dan dua hari yang lalu status message Iyam. Hmm, ada apa gerangan dengan kata-kata itu? Kemarin sebenarnya sudah penasaran, tapi tak kutanyakan karena satu dan lain hal. Rupa-rupanya itu adalah perkataan Ustadz Reza M. Syarief yang berarti, “Selamat datang masalah.”

Aneh? Sejujurnya ngga sih kalo buat saya mah. Iya pernah denger kata-kata itu. Ternyata emang diputer di MQ. Berbicara mengenai masalah yang kita alami sehari-hari.

Lalu mengapa harus menyambutnya? Disambut atau tidak ya masalah akan tetap datang dengan satu misi yang diembannya, mendewasakan kita. Coba deh perhatikan, apakah semakin hari semakin dewasa dan bertambah masalah atau tidak. Jika bertambah dewasa dengan bertambahnya masalah sejajar, maka kita sudah berhasil melaksanakan misi masalah. Nah lain lagi kalo yang makin tua malah makin kaya anak kecil, wah tau deh kalo yang kaya gituh.

Nah, begitu juga dengan kuliah. PR dan tugas itu suatu keniscayaan. Ga ada kata ga bisa selama kita mau mencoba. Ga ada kata ga mungkin selama kita masih percaya Allâh yang punya kuasa. Lalu, kenapa harus terbebani dengan PR dan tugas? Itu untuk membuat kita belajar. Tinggal jika kita menganggap PR dan tugas de-el-el itu adalah masalah, kembali ke perkataan sebelumnya..masalah itu untuk mendewasakan kita. Hadapi aja. Karena masalah pasti datang. Hadapi, hayati dan nikmati itu kan pesan Aa Gym?!

Jadi, Ahlan Wa Sahlan yâ Qadhayâ!!!

Jadilah Ilmuwan Muslim

Jika mau menelaah, Islam memiliki banyak sekali ilmuwan muslim di hampir seluruh bidang yang kita kenal saat ini. Namun, tak jarang sebagai seorang muslim kita tak tahu mengenai itu semua. Bahkan sudah terlalu lama dicekoki nama-nama ilmuwan yang notabene barat. Tidak salah memang, hanya saja sebagai seorang muslim kita seharusnya mengenal agama kita termasuk mutiara-mutiara yang ada di dalamnya. Itulah yang dilakukan para ilmuwan muslim, menemukan mutiara Islam. Dan malah ilmuwan yang kita kenal dengan nama barat itu seringkali sebenarnya adalah seorang muslim, karena mereka (barat, red) tidak dapat melafalkan nama ilmuwan muslim tersebut yang seringkali berasal dari timur tengah.

Al-Quran terlalu kaya untuk dikaji karena ia berasal dari Sang Pencipta Alam Semesta. Al-Quran takkan pernah habis dijelajahi karena ia mengandung banyak rahasia kehidupan tak berbatas. Oleh karena itu, tak sedikit kaum muslim yang menjadi ilmuwan karena mereka mempergunakan akal yang dikaruniakan Allâh kepadanya. Ia selami al-Qurân, perhatikan alam dan menjadilah mereka cendikiawan yang malang melintang di dunia sains.

Contohlah Omar Khayyam di bidang matematika dan astronomi, Al-Zahrawi di bidang kedokteran spesialis bedah, Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Khawarizmi, dan masih banyak lagi ilmuwan muslim lainnya yang akan membuat kita bersemangat untuk menelusuri ilmu pengetahuan dan menjadi ilmuwan muslim next generation. Lalu berkatalah, We are mujaddid of the century!!!

Allâhu akbar!!!

Semangat Laskar Pelangi

Hmm..udah nonton film Laskar Pelangi belum? Atau minimal baca novelnya deh. Gimana pendapat temen-temen? Mmm, sejujurnya saya tidak mengharapkan jawaban “rame”. Kenapa? Karena itu hanya pendapat biasa. Lalu yang luar biasa apa dong jawabannya? Saya ingin jawaban mengenai semangat dari novel itu.

Laskar Pelangi (LP) memuat pesan moral bahwa yang miskinpun berhak mendapat pendidikan, selain itu belajar untuk melihat sesuatu dari kacamata positif. Semangat belajar. Itu pesan yang ingin sa tekankan dalam tulisan ini. Ya, semangat belajar. Mereka tak peduli sekolah mereka dah ampir ambruk. Mereka ga peduli apakah guru mereka banyak atau sedikit. Tak juga peduli apakah mereka memiliki buku atau tidak. Tapi semangat mereka belajar dapat menutupi kekurangan itu.

Murahnya biaya tak jadi alasan untuk bermalas-malasan. Tak lantas berkata, “Serasa kurang perjuangannya.” Hanya orang-orang yang tak bersyukur yang mengatakan itu [maaf kalo terkesan kasar]. Ya, memang bagi sebagian orang itu benar, tapi bukan dan tak pantas dijadikan pembenaran untuk menyia-nyiakan kesempatan dari Allâh.

Saya hanya ingin mengatakan, meski dari segi bangunan kampus kita ga bagus, meski dari segi biaya sangat murah dan dari segi reputasi pun kalah jauh, tapi kita memiliki dosen-dosen berkualitas dan tentunya mahasiswa yang juga berkualitas. Tantangan jangan dijadikan alasan untuk menyia-nyiakan kampus kita, menyia-nyiakan kesempatan dari Allâh. Padahal masih banyak di luar sana yang untuk sekolah saja di bawah jembatan [seperti di Depok] dan bahkan tak mampu untuk kuliah. Kampus kita butuh bantuan, ingat banyaklah memberi bukan menerima. Jadi bersemangatlah kuliah. Seperti semangat para anggota Laskar Pelangi dalam menuntut ilmu.

Wallâhu a’lam bishshawwâb